Usul Nikah Kaya Miskin Putus Rantai Kemiskinan Apa Putus Asa Pemerintah?

ArtikelOPINIRAGAM

Written by:

KejoraMuria. Com – Sungguh memang menteri di kabinet Presiden Joko Widodo tidak pernah habis memberi ide-ide kreatif nan kontroversial yang menggugah warga negara Indonesia untuk berkomentar mengerutkan dahinya. Baru-baru ini ucapan Menko PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan), Muhadjir Effendy membuat ‘geger gember’ urusan jodoh masyarakat Indonesia. 

Sebelumnya Muhadjir juga sempat melontarkan wacana kelas pendidika pranikah untuk pasangan yang akan menikah untuk mengurangi angka perceraian.. So, maksudnya kalau lulus kelas baru boleh nikah.

Kali ini Muhadjir yang notabene mantan Mendikbud pada kabinet Presiden Jokowi Jilid I yang pernah menyebut gaji Rp 200 ribu guru honorer dimaklumi sebagai masuk surga ini mengusulkan fatwa luar biasa nyelenehnya soal aturan nikah orang kaya yang harus menikahi orang miskin. Eh,,, iya begitu? Iya benar begitu.

Disebutkan Kompas.com, Muhadjir menyebutkan ini bakal menjadi gerakan moral di Indonesia. Menurut Muhadjir, gerakan moral yang mana orang kaya menikahi orang miskin bisa menjadi solusi untuk mengurangi jumlah penduduk miskin di Indonesia.

Istimewa: Menko PMK Muhadjir Effendy

Selama ini, ujar dia masyarakat kelas atas berpikir harus menikah dengan yang sederajat, maksudnya orang kaya ya nikahnya sama orang kaya. Sehingga orang kalangan bawah alias miskin, mau tidak mau menikahi sesamanya yang miskin pula. 

Baca juga  Charil Anwar Dalam 'Aku' Sjuman Djaya

Karena itu mirip-mirip tradisi keluarga kaya dan tradisi keluarga miskin diturun temurunkan. Begitu ya kira-kira kalau Redaksi pikir?

“Saya minta ada semacam gerakan moral. Bagaimana supaya memutus mata rantai kemiskinan itu antara lain supaya yang kaya juga tidak harus memilih-milih ketika mencari jodoh ataupun menantu. Harus sama kaya. Jadi gerakan moral saja. Fatwa itu, anjuran,” ujar Muhadjir di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (20/2/2020) via Kompas.

Barangkali ini solusi termudah yang mana Pemerintah nih, khususnya Menko PMK tanpa tindakan ‘neko-neko’ bisa membantu mengurangi angka keluarga kemiskinan yang disebutkan saat ini mencapai 9,4 persen dari total 57 juta rumah tangga di Indonesia. Menurut dia, per September 2019 jumlah keluarga miskin mencapai hampir 5 juta.

Muhadjir sebenarnya kelewat batas mengurusi pernikahan warganya tidak ya? Secara langsung, iya. Bayangkan jika kamu menyukai seseorang dari sesama kalangan, misal kamu kaya suka sama orang kaya. Kan tidak ada masalah kali ya kalau menikah. Bagi kalangan milenial anjuran atau keharusan atau apalah sebutan Muhadjir mengganggu ranah privasi urusan cinta-cintaan.

Baca juga  Pemkab Kudus Lepas Tangan Soal Pengisian Perangkat Desa

Maka tentu saja, ide bombastisnya Muhadjir disorot berbagai kalangan yang kontra. Misalnya dikatakan oleh Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah. Untuk mengurangi jumlah kemiskinan seharusnya pemerintah memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia, bukan dengan usulan tersebut.

“Orang miskin umumnya tidak bisa sekolah sehingga mereka tetap bodoh dan tidak bisa keluar dari kemiskinan. Untuk mengeluarkan mereka dari kemiskinan yang mutlak adalah melalui pendidikan,” sebutnya pada Detik.com.

Sebenarnya jika dilihat dari ide yang kebablasan anehnya ini, bisa saja ini menjadi pertanda jurus putus asa Pemerintah dalam menghadapi angka kemiskinan di Indonesia. Bisa saja jurus-jurus jitu Pemerintah hingga saat ini belum membuahkan hasil seperti harapan. Tapi, tidak begini juga dong Pak kesannya kurang kerjaan. (*/ap)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *