Trotoar di Kudus Jadi Lapak Jualan Toko

PELAYANAN PUBLIK

Written by:

Kudus, KejoraMuria. Com – Keberadaan trotoar dapat ditemui di sepanjang jalan Kabupaten Kudus. Fasilitas trotoar yang diberikan Pemkab Kudus, kadang disalahgunakan penggunaannya. Bukan untuk pedestrian, tapi untuk tambahan tempat berjualan.

Beberapa waktu lalu Pemerintah Kabupaten Kudus menggadang-gadang bakal membuat trotoar modern di tiga titik yakni sepanjang Simpang Tujuh Kudus hingga jembatan Kali Gelis, Lingkar Utara UMK hingga penempatan Panjang, Bae, dan di Jalan dr. Loekmono Hadi serta Jalan Ramelan.

Tak main-main, Pemkab Kudus mengalokasikan dana sebesar Rp 90 miliar yang secara bertahap akan digunakan membangun trotoar yang dilengkapi sejumlah fasilitas publik bagi pedestrian.

Namun menilik lapangan, faktanya trotoar di Kudus tak hanya digunakan oleh Pedagang Kaki Lima (PKL) yang jumlahnya tercatat belasan ribu. Namun justru toko-toko pinggir jalan sengaja memakan trotoar dan digunakan sebagai tempat menggelar jualannya.

Baca juga  PPPA Sebut Ada 7 Aduan Kekerasan Perempuan dan Anak Selama 2018

Sebut saja trotoar di Pasar Bitingan Kudus, bisa dipastikan trotoar berubah jadi lapak pedagang. Kesemrawutan terlihat di trotoar yang notabene untuk pejalan kaki. Trotoar tak berjalan sesuai fungsi yang seharusnya.

Selain itu, pantauan di sepanjang Jalan Tanjung toko-toko justru menggunakan trotoar sebagai tempat menggelar dagangan hingga di bibir jalan. Tak nampak ada trotoar bagi pejalan kaki.

Selain fungsi trotoar yang berubah, sepinya trotoar bagi pejalan kaki juga nampak dari jumlah pejalan kaki di Kabupaten Kudus sangat sedikit. Di beberapa titik, trotoar justru nganggur tidak digunakan. Mungkin hal ini menjadi salah satu alasan trotoar justru dimanfaatkan untuk berdagang.

Tak hanya di daerah Kota, keadaan trotoar yang sangat sepi juga bisa dijumpai di Jalan Agil Kusumadya Kudus. Trotoar yang mengarah ke PLN dan Terminal Jati seperti mati suri.

Baca juga  Penerbitan Akta Perceraian Bukti Putusnya Perkawinan

Letak trotoar lebih rendah dibanding jalan karena peninggian jalan. Selain itu trotoar rusak parah karena terlalu sering terendam banjir.

Trotoar seyogjanya menjadi tempat nyaman untuk pejalan kaki. Namun berbagai alasan menjadikan trotoar tidak berjalan sesuai fungsinya. Selain itu masih rendahnya minat pejalan kaki menggunakan trotoar membuat beberapa titik trotoar di Kudus terlihat sebagai formalitas di jalanan semata. (*/ap)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *