Tenggelamnya Kapal Van De Vijk Disebut-Sebut Plagiat Dari Novel Magdalena

ArtikelSENI & BUDAYA

Written by:

KejoraMuria. Com – Jika seorang gadis mengatakan pada orang tuanya bahwa ia akan menikah atau sudah memiliki pasangan, sang orang tua biasanya akan bertanya, “Dia bekerja dimana atau pekerjaanya apa?” Atau mungkin pertanyaan lain yang masih sejenis. 

Bila diterjemahkan, cinta boleh-boleh saja, tapi cinta tidak cukup hanya dengan cinta, dalam cinta harus ada kejelasan mengenai nasib dan masa depan. Ada proses materialisasi cinta, dan proses kalkukasi hati. Bukan karena si orang tua hendak menarik keuntungan seperti halnya pedangan, tapi hanya semata melindungi sang anak.

Novel ini menceritakan kisah cinta dua anak manusia, yang masih terbelenggu dalam kelaziman adat. Cinta Magdalena pada Stevan harus berkahir dengan tragis, gara-gara orang tuan dan lingkungannya tidak mengijinkan ia berhubungan dengan lelaki yang menurut anggapan mereka tidak memiliki masa depan. 

Baca juga  Menghitung Pengguna JPO di Tengah Kota Kudus

Namun ternyata masa depan tidak selalu bisa direncanakan. Masa depan terkadang muncul secara tiba-tiba dan menuntut manusia untuk menggapai sukses.
Begitulah sedikit review dari novel Magdalena.

Novel tragedi Magdalena ini pertama kali ditulis oleh Alphonse Karr. Dan diterjemahkan oleh Mustafa Lutfi Al Manfaluthi, seorang sastrawan Mesir yang tidak bisa berbahasa Prancis ini. 

Novel dengan judul asli Sous les Tilleus, yang berbahasa Prancis ini disadur Mustafa Lutfi Al Manfaluthi ke dalam bahasa Arab dengan judul Al Majdulin hingga menyebar ke seluruh dunia hingga ke Indonesia dan dikenal dengan novel Magdalena.

Polemik terjadi di Indonesia ketika novel “Tenggelamnya Kapal Van De Wijck” karya Hamka, dituduh sebagai plagiat buku Al Majdulin karya Al Manfaluthi. Polemik ini sendiri bermula dari tulisan di majalah “Bintang Timoer” tahun 1962, kemudian diikuti media lain. olemik tersebut hilang setelah almarhum HB Yasin, Paus Sastra Inconesia, mengungkapkan analisa sekaligus pembelaannya.

Baca juga  Cagar Budaya Masjid Wali 90 Persen Hasil Pemugaran

Berikut perkataan Stevan pada satu halaman. Perkataan ini ketika dia dipandang sebelah mata:

“Dengan senang hati, engkau menjatuhan hukuman mati seperti menulis surat undangan ke suatu pesta perkawinan. Engkau sajikan sepotong kue yang telah ditaburi racun mematikan didalamnya. Kau angkat topimu, sebagai penghormatan pada orang yang bercucuran darah karena tertusuk belatimu” 

Untuk lebih menariknya, bisa dibaca novelnya. (*/ap)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *