Selama Percaya Mitos Suluten, Popok Bekas Bakal Nyaman Mengarungi Sungai

ArtikelKESEHATAN

Written by:

Kudus, KejoraMuria. Com – Pasti kita tahu di musim penghujan banjir kerap terjadi, tidak lain karena sampah di sungai yang mengganggu aliran air. Tahu dong, sampah yang biasa terlihat disela-sela air sungai. Itu popok bekas bayi yang sering terlihat “ngembung” di sungai. Tentu kita semua paham popok-popok bekas itu memang sengaja di buang ke sungai.

Jadi tanpa sengaja popok bekas yang dibuang ke sungai dari tahun ke tahun selalu bertambah, ya pastinya selama angka pernikahan terus meningkat dan kelahiran selalu terjadi, dan bayi dipakaikan popok dan orang tua membuangnya ke sungai, alhasil popok bekas dengan nyaman mengarungi sungai-sungai kita.

Muncul beberapa pertanyaan, mengapa popok bekas bayi sengaja dibuang ke sungai? Kita orang di Jawa masih percaya dengan mitos “suluten” atau kondisi dimana pantat dan paha bayi muncul bintik-bintik berisi air yang nampak seperti cacar tapi bukan cacar.

Nah, jadi masyarakat masih percaya dengan membuang popok bekas ke air (sebut sungai) bisa mendinginkan pantat bayi (maksudnya biar adem). Masyarakat percaya jika suluten pada bayi merupakan akibat dari popok bekas yang dibuang dan dibakar. Padahal itu hanya mitos lain yang sering dikait-kaitkan dengan berbagai kejadian.

Baca juga  Kolaborasi 'Ngeri-Ngeri Sedap' Emak dan Tukang Becak

Tak sedikit masyarakat desa yang percaya hal tersebut, terlebih itu merupakan perkataan orang-orang tua pada zaman dahulu. Hal itu yang menjadi penyebab maraknya sampah popok bekas di sungai, meskipun teknologi informasi sudah sangat berkembang. Tapi tetap saja, kepercayaan adalah kepercayaan.

Seberapapun kemajuan teknologi berupa smartphone yang begitu mudah diakses untuk mencari informasi pada suatu hal atau keadaan, masyarakat masih sangat bergantung pada omongan orang-orang tua zaman dulu. Istilahnya nih, percaya pada suatu hal yang sudah turun temurun. Itu akan sulit diubah dengan berbagai penjelasan seberapa benarnya.

Sebenarnya suluten dalam bahasa kedokteran disebut dengan istilah Impetigo. Infeksi kulit ini biasanya berupa bintik merah berisi cairan yang dapat melepuh. Biasanya dapat menyerang bayi di bagian pantat, paha, wajah dan bagian tubuh lainnya.

Baca juga  Tradisi Lamaran Mobil di Pati Bakal Buat Tekanan Calon Pengantin Pria?

Tak lain Impetigo ini disebabkan bakteri Stapilococcus aureus. Bakteri ino dapat menginfeksi bayi jika gatal dibagian pantat. Terlebih jika ada luka sedikit dibagian yang pantat yang mudah lembab akibat pemakaian popok yang terlalu lama.

Pada umunya suluten akan sembuh seiring waktu, namun agar bayi tidak terkena infeksi tersebut orang tua harus memperhatikan waktu pemakaian pampers dan kebersihan bayi.

Jadi kondisi tersebut atau “suluten” bukan mitos karena popok bekas bayi dibuang lalu dibakar, tapi memang karena bakteri infeksi kulit. Maka sepatutnya orang tua, khususnya ibu-ibu agar mulai merubah kebiasaan membuang popok bekas ke sungai.

Mengingat popok bekas tak bisa diuraikan air, sehingga dia akan menumpuk dan membanjiri sungai dengan sampah popok bekas. (*/ap)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *