Sambat Gaji UMR Kok Investasi Kelas Premium Alias ‘Mbayar’ Mahal!

ANAK MUDAArtikelOPINIRAGAM

Written by:

KejoraMuria. Com – Ya sohib, semalam jagat twitter diramaikan dengan adegan postingan klise dari penyelenggara bincang-bincang alias ‘seminar’ bertema bertahan hidup dengan UMR alias hidup minimal di kota pelajar yang membuat greget pengguna twitter. Berawal dari poster yang diupload, terjadilah komentar menohok bagi penyelenggara.

Ke’kakuati’an itu bermula dari seorang pengguna twitter yang merespon poster yang bertolak belakang dengan tema sambat bertahan hidup dengan UMR. Pengguna twitter @Dyanasthasia menyoroti poster dengan membuat sejumlah ‘theread’ yang berbunyi,

Mas, cangkemmu ngomong soal bertahan dengan UMK Jogja, tapi sing ngomong cekelane MacBook? Terus rumongsomu sing sangune pas-pasan iki kudu mbayar rongatus ewu karo wong sing wis sugih ngono?”

(Mas, mulutmu ngomong soal bertahan dengan UMK Jogja, tapi yang ngomong pegangannya MacBook? Terus menurutmu yang uang saku pas-pasan itu harus membayar dua ratus ribu untuk orang yang kaya, begitu?)

Dia menyorot poster yang berisi pria dan wanita yang membawa sebuah laptop MacBook yang harganya pasti dibandrol mahal untuk kalangan tertentu saja, “ya elah,,, sohib pas-pasan biasa pakai Ac*r, As*s, Tos*iba..” Ya begitulah berlanjut pada ‘talkshow’ sambat soal bertahan hidup dengan UMK tertuju pada investasi (apaan si investasi, tinggal ngomong tiket registrasi ikut kelas begitu saja. Gaya amat!)

Baca juga  Dubai Tawarkan Ferari Pada Egg Boy yang Timpuk Telur Senator Australia

Pasti ngomonge ‘Iki guduk tiket! Iki Investasi!’. Iki sung mbok ajak ngomong gae mangan sesok ae sek mikir. Kalau mau ngomong investasi, ngomongo investasi. Ngkok judule tok ‘bertahan hidup’ terus isine guduk rencana makan mbe kos-kosan tapi cara ngisi reksadana” tambah @Dyanasthasia 

(Pasti ngomongnya ‘ini bukan tiket! Ini investasi!’ itu yang diajak ngomong buat makan besok saja masih mikir. Kalau ngomong investasi, ngomong lah imvestasi. Cuma judulnya saja ‘bertahan hiduo’ lalu isinya bukan rencana makan sama kos-kosan tapi cara mengisi reksadana”

Peserta yang ikut diwajibkan registrasi melalui website tertentu, juga harus membayar Rp 150 ribu untuk ‘early bird’ atau membayar Rp 200 ribu untuk normal. Nah, ini yang jadi masalah apalagi ‘talkshow’ direncanakan akhir bulan.

“Busyet, sudah gaji UMR, pas-pasan, tanggal tua, mau ikut ‘kelas’ bayar dua ratus ribu!” (Kira-kira begitu, sambat sebelum ikut kelas sambat).

Tidak sedikit yang merespon @Dynasthasia dan sepemikiran dengan kritik yang menganggap promosi tidak ‘pas’ untuk mengangkat tema tersebut. “Wes miskin kudu sambat ae larang pisan, opo diguyu wong kirik!” (Sudah miskin harus sambat saja mahal banget  apa nggak ditertawakan anjing!)

Baca juga  Sindiran Rudiantara, Hastag #YangGajiKamuSiapa Puncaki Tranding

Ngerti harga tiket e dadine malah sambat 😂150-200 iso kanggo makan sminggu” @NawangJackers (tahu harga tiket jadinya malah sambat, 150-200 bisa buat makan seminggu)

Kartun ilustrasi ‘Sental Sentil Postkota News’

Tentu bisa dijelaskan banyaknya seminar atau kelas tersebut membutuhkan biaya untuk sewa gedung, konsumsi, sampai ‘ubo rampe’ lainnya. Namun rasa-rasanya jika talkshow mengangkat tema untuk gaji UMR bukankah lebih baik jika diselenggarakan di warung-warung kopi atau angkringan yang banyak di Yogja, toh juga sama-sama perencanaan keuangan dengan gaji minimalis?

Tapi, kaum milenial saat ini cenderung berbaju borjuis bahkan untuk hal yang sederhana. Apa-apa harus dikemas seperfect dan semahal mungkin agar nampak kredibel, padahal omongan hidup dengan gaji UMK justru pas dibahas melalui forum-forum santai yang tentunya murah sambil ‘ngopi’.

Kecuali talkshow tersebut pesertanya pengamat atau pakar perencana keuangan yang ‘nggak’ pernah hidup dengan gaji UMR. (*/ap)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *