RUU Ketahanan Keluarga, DPR Rasa Tetangga?

ArtikelOPINIPOLITIK DAN PEMERINTAHANRAGAM

Written by:

KejoraMuria. Com – Setelah aksi Menko PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) Muhadjir Effendy menyarankan agar Menteri Agama membuat fatwa jika orang kaya wajib menikah dengan orang miskin yang membuat heboh masyarakat. Sekarang giliran Dewan Perwakilan Daerah (DPR).

Iya, DPR tengah membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketahanan Keluarga. Apa sih yang membuat RUU ini membuat Redaksi menyebut DPR rasa tetangga? 

Begini, RUU Ketahanan keluarga diketahui memiliki sejumlah Pasal kontroversial yang secara spesifik mengatur urusan rumah tangga. Saat ini RUU Ketahanan Keluarga masuk dalam Prolegnas prioritas 2020, artinya RUU ini bakal dibahas oleh DPR. Berikut pasal-pasal kontroversial dalam RUU yang masuk ke ranah pribadi masyarakat Indonesia. 

Pertama pasal 24 (2) yang mengatur soal perasaan pasangan suami istri menyebutkan bahwa “setiap suami istri yang terikat dalam perkawinan yang sah wajib saling mencintai, menghormati, menjaga kehormatan, setia, serta memberi bantuan lahir dan batin yang satu pada yang lain”. 

Ilustrasi Iqbal A dari Suara.com

Urusan saling mencintai, secara logika kalau tidak saling cinta kenapa menikah? ‘Kan dijodohkan, mana bisa diwajibkan saling mencintai?’ Sebenarnya ada kok pepatah, soal hati manusia siapa yang tahu sih? Ini seperti tidak menjadi pertimbangan bagi pengusul RUU tersebut.
Pasal kontroversial lain tercermin di Pasal 25 (3), begini bunyinya

“Kewajiban istri sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) antara lain, a. Wajib mengatur rumah tangga dengan sebaik-baiknya, b. Menjaga keutuhan rumah tangga; serta, c. Memenuhi hak-hak suami dan anak sesuai norma agama, etika sosial, dan ketentuan perundang-undangan”

Sebenarnya soal kewajiban istri dalam mengurus rumah tangga telah diatur menurut agama masing-masing. Menjadi persoalan di era saat ini ketika banyak istri yang harus bekerja, bahkan ada yang bekerja dari pagi hingga sore (contohnya istri yang jadi anggota DPR lah). Soal mengurus rumah tangga, bisa kok menjadi urusan bersama tanpa harus diatur-atur.

Baca juga  Kendaraan Dinas Pemkab Kudus Senilai 1,26 miliar Rencanakan Dilelang

Sebagian pengusul RUU Ketahanan Keluarga sebut saja Netty Prasetyani dari Fraksi PKS menyebut sebenarnya RUU ini diusulkan dengan dalil untuk melindungi keutuhan rumah tangga, juga agar anak dapat tumbuh berkembang dengan bahagia di tengah keluarga. Tapi RUU ini bukan jaminan, bahkan banyak yang menyebut jika RUU ini tidak peka pada keluarga ‘single parent’

Bagaimana tidak, keluarga dengan ‘single parent’ bukan berarti tidak bahagia. Justru tidak sedikit anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal hidup baik.
Selain dua pasal tersebut juga ada pasal dalam RUU Ketahanan Keluarga yang dinilai telah ada dan diatur oleh Undang-Undang (UU) sebelumnya, jadi tidak perlu diatur kembali melalui UU baru. 

Sebut saja aturan soal pemisahan kamar orang tua dan anak dengan dalil untuk mencegah aktivitas seks menyimpang di Pasal 33 dan Pasal 85 (1) yang menyebut perilaku seks menyimpang termasuk homoseksual adalah perilaku menyimpang dan harus dilaporkan seperti disebutkan Pasal 86 dan Pasal 87.

Inilah beberapa Pasal dalam RUU Ketahanan Keluarga yang Redaksi sebut membuat DPR rasa tetangga karena terlalu mengurus hal pribadi pasangan suami istri yang telah menikah. Begitu. (*/ap)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *