Mendatangi Gunung Tidar “Pakuning Jawa”

SENI & BUDAYAUncategorizedWISATA

Written by:

KejoraMuria. Com – Gunung Tidar menjadi satu-satunya gunung yang berada di tengah-tengah kota. Terletak di Magelang Jawa Tengah atau tepatnya berbatasan langsung dengan Akademi Militer (Akmil) Magelang, Gunung Tidar disebut-sebut sebagai pusat tanah Jawa. Memang tidak sedikit orang yang menyebutnya dengan nama Pakuning Jawa.

Redaksi Kejora Muria sempat mendatangi Gunung Tidar tersebut. Kunjungan ini bukanlah kali pertama, sebab beberapa waktu sebelumnya Saya juga pernah mengunjungi gunung tersebut. Alhasil sejumlah perubahan sangat terasa, pembangunan untuk mempercantik kawasan Gunung Tidar nampaknya digenjot Pemkot Magelang untuk menarik wisatawan.

Perbaikan fasilitas anak tangga menuju puncak Gunung Tidar yang dibuat dua titik, beberapa pedagang di area perjalanan, hingga toilet, dan masjid menuju puncak sudah tersedia. Agaknya ini sangat berbeda saat kali pertama Saya mengunjunginya, belum ada pedagang di area pendakian dan lampu-lampu dipasang untuk mempercantik beberapa titik tangga pendakian.

Waktu itu Saya sempat bertemu dengan seorang penunjuk jalan gunung Tidar, namanya Pak Jalil. Untuk mencapai puncak Gunung Tidar, pengunjung harus melalui ratusan anak tangga. Juga terkadang harus menghadapi tingkah nakal kera yang menghuni Gunung Tidar.

Namun Pak Jalil menjelaskan jika saat ini kera penghuni gunung tak seusil dulu. “Kera-kera di gunung tidak lagi berani turun dan mengganggu pengunjung gunung,” ujarnya.

Gunung Tidar memiliki ketinggian 503 mdpl, dapat ditempuh dengan anak tangga tak lebih dari 30 menit. Terdapat beberapa tempat yang dipercaya sebagai makam di sepanjang anak tangga yang membelah hutan. Beberapa versi cerita keberadaan makam dapat diketahui pengunjung.

Baca juga  Camping Asik Di Kebun Teh Promasan

Pertama, makam Syekh Subakir yang dipercaya sebagai ulama generasi pertama Wali Songo yang menyebarkan agama islam di tanah Jawa. 

Kejora Muria/Yayuk: depan gapura masuk tempat yang dipercaya makam/petilasan Syekh Subakir

Sementara jika pengunjung naik lagi ke atas akan menemui Makam Sepanjang, ada beberapa cerita yang menyebut makam tersebut makam seorang Kyai Sepanjang, namun ada pula yang menyebut jika Makam Sepanjang merupakan tombak milik Syekh Subakir yang digunakan menaklukkan pulan Jawa. Disebut Sepanjang karena panjangnya sekitar 7 meter. 

Sementara di puncak terdapat makam di area pohon beringin besar dengan nama R. Pangeran Purboyo. Sementara di bagian lain puncak juga terdapat satu makam dengan bangunan kubah kerucut bercat kuning yang sangat tinggi, diketahui sebagai makam Kyai Semar atau Kyai Ismoyo.

Di puncak pun pengunjung akan sampai pada sebuah lokasi sebuah tugu yang dipercaya sebagai tempat tumbal yang ditancapkan Syekh Subakir. Tugu berada tepat ditengah tanah lapang dan dikelilingi pagar. ”Ini dipercaya tempat tumbal, kalau orang jawa bilangnya Pakunya Jawa. Disini Syekh Subakir menancapkan sebuah benda” terang Pak Jalil sambil menunjuk tugu tersebut.

Pasalnya Syekh Subakir dipercaya menancapkan benda yang sebagai tumbal di tengah Gunung Tidar untuk mengusir Sabdo Palon dan jin lainnya di tanah Jawa. Karena hal itu Gunung Tidar disebut Pakunya Tanah Jawa.

Baca juga  Menjajal Tracking Solo Gunung Prau Wonosobo

Dikupas Harian Merapi benda yang dimaksud adalah Pusaka Kalimasada yang ditancapkan di Gunung Tidar oleh Syekh Subakir usai bermusyawarah dengan Kyai Semar.

Kejora Muria/Yayuk: tugu di tengah puncak Gunung Tidar bertulis aksara jawa “sa”

Pada tugu tersebut tertulis aksara Jawa, “Sa” pada ketiga sisi sedangkan satu sisi bergambar garuda. Pak Jalil menjelaskan jika huruf “Sa” memiliki makna tersendiri.”(Sa) pada ketiga sisi itu bermakna Sapa Salah Seleh (Siapa salah ketahuan salahnya),” ucapnya. Intinya hal baik akan terlihat baik, dan hal buruk pasti juga akan terlihat.

Sebagai salah satu daya tarik, keberadaan makam membuat sejumlah peziarah datang untuk berdoa. Itu berbeda saat Saya pertama kali mendatangi Gunung Tidar. Dulu belum ada rombongan yang memang sengaja datang untuk berziarah, namun saat ini setiap hari bukanlah hal baru jika mendapati rombongan peziarah yang sengaja datang ke Gunung Tidar.

Kejora Muria/Yayuk: peziarah di depan tempat yang dipercaya makam/petilasan kyai Semar/kyai Ismoyo.

Beberapa pengunjung merupakan rombongan peziarah dari luar kota. Salah satunya Aji peziarah asal  Gresik yang sempat bertegur sapa dengan Saya.”Tempatnya bagus, selain ziarah saya dan rombongan juga penasaran dengan lokasi “pakune jawa” yang disebut di Gunung Tidar,” terangnya.

Dia menuturkan jika tempat ziarah ini sudah lebih baik, namun dia menyayangkan karena adanya kemenyan yang sengaja dibakar di sekitar makam maupun tempat lain. ”Sayang, bau kemenyan yang dibakar di beberapa tempat terutama di makam, itu sangat mengganggu,” pungkasnya. (*/ap)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *