Mendaki, Masa Tidak Bisa Pasang Tenda

ANAK MUDAArtikelWISATA

Written by:

KejoraMuria. Com – Mendaki menjadi pilihan keren dan ‘cool’ bagi anak muda zaman ‘now’ untuk menghabiskan akhir pekan atau memanfaatkan libur panjang. Ada yang berangkat mendaki serombongan bisa enam sampai 10 orang, ada juga yang cuma dua sampai empat orang saja. 

Tidak semua lho yang naik gunung itu punya pengalaman dan memang ‘expert’ dibidang pendakian. Sebut saja masalah remeh temeh seperti mendirikan tenda. Tidak semua yang naik gunung bisa pasang tenda dengan baik dan benar.

Bukan mau memberi tips cara mendirikan tenda, pasalnya sudah seharusnya sebelum memutuskan mendaki, seseorang harus bisa mendirikan tenda.

Peristiwa ‘tragedi’ (eh… Bahasanya), maksudnya ketidakbisaan mendirikan tenda bisa membuat masalah cukup serius bagi pendaki, apalagi jika memutuskan berpisah dari rombongan san saling menunggu di ‘camping ground’. Terlebih jika cuaca buruk, keterampilan mendirikan tenda menjadi wajib dimiliki setiap yang naik gunung.

Redaksi Kejora Muria pernah bertemu dengan sepasang pendaki gunung yang memang niat mendirikan tenda. Jadi waktu itu tengah gerimis, Redaksi melakukan pendakian di Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang dengan ketinggian sekitar 2050 mdpl. Masa peralihan cuaca semacam ini, gerimis memang kerap menghantui pendaki.

Baca juga  Kolaborasi 'Ngeri-Ngeri Sedap' Emak dan Tukang Becak

Dari kejauhan hanya nampak dua orang, ya benar yang satu laki-laki dan yang satu perempuan. Saat itu tenda Redaksi Kejora Muria telah berdiri dengan kapasitas dua orang (2p). Dua pendaki yang berjarak kurang lebih sepuluh meter, dari setengah jam kami perhatikan tidak juga mendirikan tenda. “Yang perempuan memegangi senter, yang laki-laki ‘upyek’ mengatur tenda yang tak juga bisa berdiri”.

Karena gerimis berkepanjangan dan ‘ngalamat’ sepasang pendaki bisa basah kuyup, Redaksi putuskan untuk mendatangi keduanya. “Mas, saya bantu”. Selagi kami memasang tiang penyangga, memasukkan ke dalam tenda lalu dengan cepat mendirikan tenda, kami ngobrol ringan.

Tenda berdiri selagi sepasang pendaki itu sudah basah. Karena gerimis cukup kencang ditambah kabut tebal pukul 11.00 Wib.

“Darimana asalnya mas?””Oh, saya dari Kendal mbak!””Baru pertama kali masang tenda? Cuma berdua naiknya?””Iya, belum pernah masang tenda e. Sebenarnya ada temen, tapi pada langsung ke puncak. Karena ‘ngajak’ perempuan jadi camping di sini”

Baca juga  Mendatangi Gunung Tidar "Pakuning Jawa"

Kan, benar. Baru pertama kali mendirikan tenda. Agak ‘ngeri-ngeri’ bagaimana memang tingkah anak muda sekarang. Ibarat tidak punya keterampilan ‘sing penting wani’. Mereka lupa, alam tidak bisa diajak kompromi dan tidak mau mengerti kesulitan-kesulitan yang dialami pendaki. 

Sementara di beberapa gunung, salah satunya Gunung Ungaran yang memiliki track pendakian cukup panjang, jarak antar pendaki satu dengan lainnya biasanya terpaut cukup jauh. Setidaknya meskipun tak ‘expert-expert’ banget, ya masang tenda harusnya bisa.

Sebenarnya tidak susah-susah amat saat membawa tenda sesuai kapasitas. Misal Redaksi menggunakan tenda kapasitas dua orang (2p) ‘single layer’ karena memang untuk pendakian dua orang maksimal. Satu orang bisa dengan mudah mendirikan tenda. Itu berbeda jika kapasitas tenda tiga sampai enam orang, pasti harus cukup orang untuk mendirikannya.

Sekali lagi, ‘mas’ kalau mengajak orang naik gunung khususnya perempuan, mohon agar setidaknya bisa mendirikan tenda. Setidaknya belajar melalui teknologi sekelas ‘youtube’, jangan sekedar berangkat tanpa keterampilan. (*/ap)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *