Mempertanyakan Hati Nurani Orang yang Menganggap Jalan Umum Sebagai Halaman Rumahnya

ArtikelHUKUM DAN KRIMINAL

Written by:

KejoraMuria. Com – Seumur hidup pasti kita pernah menemui beberapa tipe orang yang suka banget menganggap jalan umum seperti halaman rumahnya sendiri. Tidak sedikit yang emosi mendadak saat lewat jalan sempit masih saja disesaki untuk parkir sepeda motor seenaknya.

Jadi begini, ada beberapa tipe orang yang memang rumahnya tepat alias langsung berbatasan dengan jalan desa atau bahkan gang-gang jalan desa. Bahkan teras rumahnya sudah mentok dengan aspal jalan. Beberapa tingkah pemilik rumah sering kali membuat kita pengendara yang lewat rada berdecak dalam hati, “ih apaan sih, dikira itu jalan halaman rumahnya apa” 

Pertama nih, yang kerap dialami pengguna jalan saat melintas yakni pemilik rumah suka parkir kendaraan sepeda motor seenak jidatnya. Ya itu jalan umum tapi dikiranya garansi rumah, jadi seenaknya meninggalkan kendaraan bermotor di jalan (meskipun depan rumahnya).

Kalau jalan umum dengan lebar yang masih lumayan, hal itu tidak menjadi masalah. Tapi bayangkan jika itu gang sempit yang hanya bisa dilalui motor atau cuma bisa dilintasi mobil. Kan sangat repot, “apalagi kalau si pemilik kendaraan itu tidak ada, motor dibiarkan begitu saja. Pengguna mobil kan bisa emosi”.


Kedua saat musim kemarau kita bakal menjumpai tipe orang rumah pinggir jalan sedang menyiram halaman rumahnya. Eh dia tidak punya halaman, maksudnya jalan tepat di depan rumahnya kerap kali diguyur pakai selang air (biar adem maksudnya). 

Ist Banjar Muliawan: parkir di gang sempit

Tapi tindakan menyiram jalan umum sangat mengganggu warga pengguna jalan. “Bisa dibayangkan dong, lagi asyik-asyik mengendarai sepeda motor eh… Kena guyur air”. Jelas dong itu membuat kita greregetan, mau marah tapi bagaimana.

Ketiga adalah tipe orang yang punya anak banyak dan anaknya main di jalan. Tipe ini barangkali kerap dirasakan pengguna jalan, mendadak harus ngerem dan memperlambat laju kendaraan karena ada anak-anak yang bermain. Ya,,,, bagi yang tidak memiliki halaman rumah, sudah pasti jalan tepat di depan rumah menjadi area bermain yang dekat dari rumah. ” tapi tidak begitu juga kali”.

Baca juga  Hijrah Brand Ambassador Mereduksi Makna Kesalehan

Tipe-tipe pemilik rumah begini yang membuat pengguna jalan benar-benar “sambat”. Sebenarnya jika merujuk pada hukumonline.com menerangkan pada Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 ditegaskan bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.

Jadi, Anda dan tetangga Anda yang pejabat pemerintah itu kedudukannya sama di dalam hukum, dan karenanya wajib saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing.   Mengenai jalan besar terkait rumah diatur dalam Pasal 671 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUHPer”) yang mengatakan bahwa: 

“Jalan setapak, lorong atau jalan besar milik bersama dan beberapa tetangga, yang digunakan untuk jalan keluar bersama, tidak boleh dipindahkan, dirusak atau dipakai untuk keperluan lain dari tujuan yang telah ditetapkan, kecuali dengan izin semua yang berkepentingan.”

Untuk ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh perbuatan tetangga Anda, apabila cara kekeluargaan tidak berhasil, Anda dapat menggugat tetangga Anda secara perdata untuk meminta ganti kerugian atas dasar perbuatan melawan hukum, sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUHPer, yang berbunyi: 

“Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.”

Mengingat sudah ada aturan yang jelas untuk penggunaan jalan umum bersama, terlebih sudah ada aturan hukum perdata yang mana orang dapat menggugat secara perdata atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Jadi jangan asal menggunakan jalan umum sebagai halaman rumah. (*/ap)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *