Masyarakat Kita Ialah yang Berani Pada yang Miskin

ArtikelOPINIPERISTIWA

Written by:

KejoraMuria. Com – Istilah hukum yang runcing ke bawah tumpul ke atas, tidak sekedar berlaku bagi penegak hukum seperti yang selama ini digembar-gemborkan jika menemui kasus yang sebenarnya remeh temeh namun di hukum proporsional sesuai hukum. Toh, faktanya masyarakat kita juga menganut hukum semacam itu ketika memperlakukan orang lain.

Tentu, kita masih ingat video viral tuduhan mencuri atau ‘ngutil’ di pasar yang terjadi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Saat itu seorang nenek-nenek di tendang oleh pedagang pasar yang menduga si nenek mencuri sesuatu dari kiosnya. Tidak tanggung-tanggung dia menendang berkali-kali ke arah nenek renta tersebut.

Diketahui selanjutnya jika nenek renta tersebut mengalami depresi dan sebagian tetangga sudah mengetahuinya. Peristiwa tersebut membuat si nenek trauma ketika bertemu orang.Masalah mengutil, jika benar tentu itu salah, namun tidak semestinya perlakuan itu diberikan.

Sialnya masyarakat kita yang gemar menghujat perilaku diskriminasi hukum, juga kerap kali melakukan tindakan perilaku yang sama. Teori perlakuan berbeda karena seseorang miskin, itu sangat relevan untuk hidup ini.

Bayangkan jika si nenek berpakaian rapi, bagus, pasti perlakuan buruk semacam itu tidak akan dia alami. Namun karena penampilan dan anggapan miskin, membuat orang memperlakukan seseorang seenaknya, tidak pantas dilakukan.

Belum lama ini juga perilaku buruk masyarakat kita, yang bisa saja dianggap minus terjadi. Kali ini menimpa seorang perempuan paruh baya yang dipermalkukan di depan umum gara-gara dituduh sebagai penculik anak. 

Disebutkan melalui Tribunnews.com Irawati merupakan seorang pemulung warga Puncak Sekuning, Kecamatan Ilir Barat 2 Kota Palembang. Di video yang tersebar itu, Irawati dituduh melakukan penculikan terhadap anak di kecil di Kampung Sawah Brebes, Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung.

Baca juga  Petani Penderita Epilepsi ditemukan Meninggal di Sungai

Irawati dikerubungi banyak orang dan juga di intimidasi karena karung yang dia bawa. Sekelompok orang lantas mencecar dan membongkar barang bawaannya. Irawati hanya bisa sedih mendapat perlakuan yang tidak dia sangka.

Dari Tribunnews

Sial sekali perlakuan yang didapat Irawati karena dia miskin dan pakaian lusuh, padahal dia cuma pemulung, mencari makan. Mari kita bedakan jika mendapati perempuan paruh baya dengan pakaian rapi, nampak seperti perempuan berada. Pasti tidak akan ada yang menyangka penculik meski aslinya justru penculik.

Masyarakat kita masih seperti golongan masyarakat yang gemar melihat sesuatu dari visual atau tampilan luar. Maka kerap saja kita temui kasus-kasus salah sasaran karena cara pandang yang keliru. Itu menunjukkan jika masyarakat kita melakukan diskriminasi perlakuan karena materi.

Kecenderungan masyarakat lebih ramah pada kaum berada dan minus pada kaum bawah, masih sangat bisa dibuktikan kebenarannya dari peristiwa-peristiwa itu. Sayang sekali, perilaku masyarakat masih semacam itu.

Sebagai negara berkembang, bisa saja tidak cuma dari segi negara, bahkan moral masyarakat negara ini nampaknya juga masih dalam taraf berkembang. Belum dalam kategori maju, meskipun teknologi semakin canggih, toh faktanya minsed dan pemikiran sebagian masyarakat belum mengikutinya.

Pada sebutan negara yang masyarakaynya ramah, nampaknya itu belum cukup pantas disematkan bagi masyarakat kita. Mungkin benar masyarakat ramah pada orang asing, yang faktanya masyarakat kita kadang gemar saling uring-uringan dengan sesama. Masih sering main intimidasi dan hajar pada sesama anak negeri. Belum bisa ramah pada sesama anak bangsa. 

Tentu, kita berharap masyarakat semakin maju, tidak hanya dari segi teknologi juga dalam pikiran. Suatu kali, kita tidak perlu lagi melihat sesama masyarakat yang saling hajar, seorang miskin yang dianiaya. Masyarakat harus belajar berpikir lebih dewasa dan menahan egonya untuk merasa berkuasa. (*/ap)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *