Kementan Awasi Percepatan Olah Tanam di Kudus

Nasional

Written by:

DATA. M Gozali meminta Pemkab Kudus untuk memberikan data lengkap dan riil untuk kebutuhan kebijakan ketahanan pangan pada pemerintah pusat. Foto: sofyan.

Kejoramuria.com,- Prediksi bakal datangnya kemarau panjang dan kering paska pandemic covid menuju tatanan baru memicu Kementerian Pertanian RI untuk mempercepat masa olah lahan dan olah tanam di lingkungan pertanian seluruh Indonesia. Sehingga saat kemarau, Indonesia tidak kekurangan bahan pangan pada semester kedua tahun 2020. Demikian diungkapkan M Iqbal, Kasubbid Pengolahan Hasil Tanaman Pangan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan pada Dirjen TPP Kementerian Pertanian RI saat berkunjung ke Kabupaten Kudus.

“ Setiap menteri punya kebijakan dan prioritas program kerja dan namanya. Kalau periode pak Amran ( Amran Sulaiman) mengedepankan upsus atau upaya khusus padi jagung kedelai, pada periode sekarang mengedepan data terlebih dahulu kemudian menggunakan kostratani sebagai pelaksana lapanga. Karena itu kami datang ke Kudus untuk meminta data. Baik luas lahan, luas tanam dan potensi pertanian . Mulai dawi sawah, perkebunan sampai lahan perhutanan ,” kata Gozali di aula Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus.

Menurut Gozali, penugasannya ke kawasan pantura jawa ini merupakan pertama kalinya paska pandemic covid19 yang membuat semua pegawai bekerja terbatas di rumah dan kantor. Bahkan rapat koordinasi juga dilakukan secara virtual.

“ Jadi hari ini pagi ke Kudus, kemudian ke Rembang, lalu Blora, grobogan, demak dan balik kembali ke Jakarta. Data yang kita dapatkan di Kudus nanti akan kami sampaikan ke rapat jajaran pimpinan untuk dilakukan tindaklanjut dalam program ketahanan pangan ,” jelasnya.

Guna menghadapi kemarau mendatang, sambungnya, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus dihaapkan untuk memetakan kebutuhan kebutuhan sarana prasarana guna mendukung ketahanan pangan nasional. Sebab, masing-masing wilayah memiliki kebutuhan berbeda untuk mendukung proses tanam menanam tanaman pangan.

“ Bisa jadi lokasi itu karena sungai masih ada air, maka butuh pompa dan pipa. Ukurannya berapa untuk penyedotan yang baik. Kemudian kebutuhan mesin panen untuk area kering. Atau mungkin pembuatan sumur bor. Jadi dengan kedatangan kami ini maka diharapkan bisa menyerap aspirasi dari petani petani di daerah masing-masing ,” paparnya.

Sedangkan pada area-area kekurangan air, maka petani akan menanam komoditi palawija. Jenis ini juga doharapkan bisa mengajukan kebutuhan untuk suksesnya proses menanam sampai panen dengan hasil maksimal. Misalnya, kedelai, jagung, kacang hijau dan lainnya serta sarana pengolah lahan yang dibutuhkan.

“ Pokoknya, bagaimana supaya bahan pangan ini kedepan kita aman. Maka pemerintah pusat akan membantu sarana prasarana sesuai dengan anggaran yang ada. Kalau bapak bapak dan ibu penyuluh pertanian tidak memberikan data maka pemerintah pusat tidak bisa melakukan atau memberikan kebijakan apapun. Sebab pemerintah pusat tidak punya lahan, yang punya sawah itu bapak ibu semua di kabupaten ,” tandasnya. (fya)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *