Katanya Pelayan Masyarakat, Halah!

ArtikelKESEHATANOPINI

Written by:

KejoraMuria. Com – Aparatur Sipil Negara atau singkatannya ASN baik pegawai negeri ataupun tidak sudah barang tentu di awal jabatan menyebut dirinya sebagai abdi negara atau pelayan masyarakat. Seharusnya perilaku melayani masyarakat kudu benar-benar diterapkan, bukan soal omong kosong doang kan?

Tentu, bisa ditanyakan pada masyarakat kecil bagaimana sulitnya berurusan dengan kaum yang katanya pelayan masyarakat. Betapa tidak sedikit yang melayani sepenuh hati, jangankan senyuman, pernah juga didiamkan.

Redaksi menemukan perilaku abdi negara yang sama sekali tidak ramah di salah satu tempat pelayanan kesehatan milik Pemerintah Kabupaten Kudus. Ya kalau yang tidak ramah itu pegawai pengisi BBM di SPBU tidak masalah, meskipun jelas ada aturan main untuk senyum, sapa, mulai dari nol, hingga menutupkan tangki. ‘Mereka tidak digaji dari duit rakyat gaessss’

Awalnya kami mengantar seorang rekan pendidik yang mengalami gangguan pernafasan akibat kelelahan ketika tengah berada di sekolah. Tidak main-main, kami pikir itu adalah situasi yang cukup darurat karena rekan tersebut bahkan tidak sadarkan diri atau pingsan. Usai digotong memasuki mobil, diantarlah ke sebuah tempat pelayanan kesehatan milik Pemerintah.

Benar saat itu jam menunjukkan sekitar pukul 13.00 Wib, entah itu urusan jam atau apalah tempat pelayanan kesehatan tersebut memasang tulisan pelayanan 24 jam (saya ulangi pelayanan 24 jam). Kami antar dia ke tempat kesehatan sesuai faskes (fasilitas kesehatan) tingkat I di BPJS miliknya.

Dia masih belum sadarkan diri sewaktu sampai di tempat pelayanan kesehatan tersebut. Kami turun pas di depan unit gawat darurat (UGD) begitu kira-kira, dan lantas mencari petugas yang berjaga. Kami bingung dong, rekan kami harus kami gotong ke tempat mana.

Baca juga  Menepis Sterotipe Kampung Sosial Melalui Musik

Kami masuk tidak ada siapapun sampai di sebuah ruangan dan menemukan beberapa petugas di sana. “Maaf, minta tolong ada pasien darurat tidak sadar, ini dibawa kemana?” Alih-alih bergegas jalan ke arah kami, justru omongan kami tidak digubris.

Baliklah kami keluar dengan kondisi cukup panas di luar, rekan kami masih berada dalam mobil ditemani seorang teman. Tidak juga datang dan kami masih kebingungan ini rekan kami dibawa kemana, tidak ada sama sekali yang mengarahkan. “Oh,,, shit banget!” (dalam hati, kami sudah mulai marah2).

Lantas beberapa menit kemudian datanglah sebuah mobil kesehatan yang menurunkan beberapa petugas kesehatan. Kami bilang, “ada pasien pingsan pak, ini bagaimana?” Dua ibu-ibu yang keluar dari mobil kesehatan tidak sigap dengan omongan kami, justru sopir minibus mengatakan agar diangkat saja ke ranjang UGD. 

Kami cuma bisa ‘grundel’ dalam hati mendapat pelayanan yang benar-benar tidak ramah dan pastinya bertolak belakang dengan jargon selama ini sebagai pelayan masyarakat. “O… Kurangajar!”. Setelah cukup ada keramaian, petugas kesehatan yang dari tadi cuma duduk diruangan, yang kami sudah bilang rekan kami pingsan gara-gara asma keluar.

Mulai deh, periksa-periksa dan memasangkan selang tabung oksigen untuk rekan kami. Lalu santai bilang, “ini dokternya pada cuti, ada satu cuma sudah pulang. Rumahnya jauh”. Lalu mengatakan tindakan hanya bisa sebatas memberi oksigen, kalau mau di bawa ke tempat pelayanan kesehatan di Kota, silakan. Kami tidak bisa ambil keputusan berkenaan dengan wali rekan kami.

Baca juga  Alasan Prosedural Puskesmas Seharusnya Juga Memikirkan Kemanusiaan

Pengalaman ‘kakuati’ dengan petugas kesehatan semacam itu barangkali tidak hanya dialami satu, dua orang di Republik ini. Bahkan yang paling ekstrem kelakuan petugas kesehatan yang tidak meminjamkan ambulance untuk mengantar jenazah dengan alasan aturan, bla… bla… bla… Ingat dong kasus beberapa waktu lalu pas seorang paman membopong jenazah keponakannya hingga dapat tumpangan mobil.

Di Kudus juga pernah terjadi dimana tempat pelayanan kesehatan tidak meminjamkan ambulance untuk merujuk pasien yang tengah kritis (S) akibat ditusuk sejumlah orang di depan Balai Desa Jojo, Kecamatan Mejobo tahun-tahun lalu. Akhirnya pasien kritis tersebut meninggal dunia setelah mendapat perawatan di rumah sakit.

Pelayanan dengan model semacam ini sangat melukai hati masyarakat kecil. Alih-alih mendapat pelayanan yang baik, bisa saja masyarakat malas berurusan dengan tempat pelayanan kesehatan tingkat bawah yang dinilai sangat merendahkan.

Padahal setiap tempat pelayanan kesehatan tingkat bawah sudah dibekali dengan fasilitas fisik baik gedung yang mentereng, bagus-bagus, juga kerap menyebut diri telah melakukan akreditasi pelayanan. “Oh… Omong kosong dong kalau pelayanan petugasnya begitu-begitu saja!”

Sebagai abdi negara setidaknya bercerminlah dengan mengingat janji mereka sebelum dilantik menjadi pelayan masyarakat, lebih ekstremnya agak sadar diri lah karena digaji negara dengan uang rakyat. Masyarakat hanya butuh sikap ramah, cekatan, dan petunjuk kemana mereka harus pergi saat sedang sakit. (*/ap)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *