Gunung Muria Bangun dari Tidur Panjang ?

RAGAM

Written by:

Ket: REBOISASI. Guna menjaga kondisi tanah di kawasan Gunung Muria, kelompok masyarakat berusaha dengan melakukan reboisasi. Foto: sofyan.

Kejoramuria.com,- Beberapa waktu lalu, warga Kudus dan sekitarnya beberapa kali merasakan gempa, walaupun intensitasnya kecil. Hal itu terjadi karena adanya patahan-patahan di sekitar Gunung Muria. Namun kekuatan gempa masih kecil, dibawah 5 magnitudo. Sehingga kemungkinan besar Gunung Muria masih tertidur lama. Tapi bencana lain juga harus diwaspadai, kesiapsiagaan harus terus ditingkatkan.
Hal itu disampaikan beberapa narasumber saat webinar dengan tema ‘gempa dan bencana di kawasan pegunungan : Gunung Muria ‘bangun’ dari tidur panjang?. Tiga narasumber yang menyampaikan dalam webinar tersebut yakni Rahmat Triyono, M.Sc, Ketua Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG. Lalu ada Dr. Eko Teguh Paripurno, Ketua Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Yogyakarta dan Dr. M. Widjanarko, Ketua Pusat Studi Bencana LPPM UMK.
Rahmat Triyono mengatakan, di Indonesia, gempa dengan berbagai magnitudo mencapai 5000-6000 kali per tahun. Gempa yang siginifikan berkekuatan diatas 5.0 magnitudo, sebanyak 250-350 kali pertahun, artinya setiap hari ada gempa.

“Sementara untuk gempa merusak, ada 8-10 kali dan dalam dua tahun gempa yang berpotensi tsunami ada sekali. dari jumlah tersebut, hanya pulau Klaimantan yang sedikit gempanya, sementara bagian selatan Indonesia cukup banyak, termasuk Jawa. Untuk Gunung Muria atau bagian utara jawa memang relatif sedikit dengan kekuatan gempa dibawah 5 MMI (Modified Mercalli Intensity) ,” kata Rahmat.
Sesar muria merupakan sesar yang memanjang dari arah barat daya ke timur laut yang terletak pada daerah muria Provinsi Jawa Tengah. sesar ini merupakan sesar aktif dan bergerak dengan mekanisme naik. Wilayah Gunung Muria, potensi sumber gempa dirasakan dari sesar muria dan zona subduksi yang jaraknya kurang lebih 300 km di sebelah selatan Gunung Muria.
Dia menambahkan, perlu kajian dan penelitian lebih lanjut terkait dengan aktivitas patahan sesar muria dan kaitannya dengan aktivitas Gunung Muria.

Baca juga  Sehabis Gagalnya Prank Tuyul Terbitlah Konyolnya Prank Pocong

“Kami memasang alat kegempaan di patahan yang kami lihat aktif, data tersebut bisa dijadikan kajian atau penelitian, kami persialahkan perguruan tinggi mengakses data itu,” terangnya.
Sementara itu, Eko Teguh mengungkapkan bahwa Gunung Muria merupakan gunung api yang lebih tua dari yang lain, banyak patahan. Sejumlah bukti memang menunjukkan hal tersebut, salah satunya adanya kekar-kekar bebatuan di Gunung Muria yang menunjukkan Gunung Muria adalah gunung vulkanis.
Adanya patahan di Gunung Muria, sudah dimunculkan saat isu pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) akan dibangun di Jepara. Hasil penelitian, sekitar Gunung Muria memang ada patahan yang berpotensi menyebabkan gempa.
Sementara itu, M. Widjanarko dalam webinar tersebut lebih menyoroti dari sisi bencana yang terjadi di kawasan Gunung Muria. Walaupun Gunung Muria sedang tidur dan disekitarnya banyak patahan-patahan, namun bencana lain juga setiap saat mengintai. Mulai dari tanah longsor hingga banjir bandang.
Dari penelitian yang dilakukannya, longsor atau banjir yang terjadi di kawasan Gunung Muria berdampak luas. Pada 2020 ada banjir bandang yang membawa tanah, pasir sampai alat rumah tangga sampai ke Kecamatan Tayu, Pati. Artinya bencana tersebut sudah melewati batas administratif.
Pada 2014 silam, bencana longsor di Dukuh Kambangan, Desa Menawan sampai merenggut 12 korban jiwa. Tak hanya longsor, pada tahun itu banjir juga terjadi dan melumpuhkan jalan pantura, sehingga arus distribusi arah Semarang dan Surabaya terputus.

Baca juga  Unik, Singkatan Nama Dinas Tetap Panjang Meskipun Disingkat

“Saat itu kawasan atas dan bawah muria terjadi bencana, jadi harus tetap siaga,” imbuhnya.
Dia juga menyoroti perilaku manusia yang kurang baik, karena ada penebangan liar, penambangan tanah dan batu dan pola tanam semusim. Bahkan penebangan liar diatur seakan-akan bukan penebangan liar, yakni dengan cara marugi.
Cara marugi adalah, ketika ada pohon besar, maka bagian bawah akan dilubangi lalu dibakar. Maka beberapa waktu selanjutnya pohon besar tersebut akan mati, ketika mati baru ditebang, sehingga ketika menebang pohon mati tidak ada sanksinya. “Penebangan liar masih, padahal pengawasan sudah lebih ketat,” jelasnya.
Untuk menghadapi atau mengurangi bencana tersebut, memang diperlukan kesiapsiagaan, tidak menenebang phon, tidak merusak hutan dan membangun dinding penahan di lereng terjal. Selain itu melakukan penanaman pohon berakar kuat, membuat saluran air hujan dan memeriksa keadaan tanah secara berkala hingga pengerukan sedimentasi suangai secara periodik. (fya)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *