Deg-Degan Menunggu Tanggul Sungai Piji Jebol

ArtikelOPINIPERISTIWAPOLITIK DAN PEMERINTAHAN

Written by:

KejoraMuria. Com – Bisa jadi judul yang diangkat Redaksi Kejora Muria saat ini menjadi hal yang wajar bagi sebagian masyarakat di beberapa Desa di Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus yang dilintasi Sungai Piji. Bagaimana tidak, sejarah tanggul jebol Sungai Piji turut Desa Tenggeles, Desa Golantepus, Desa Hadiwarno, dan Desa Kesambi seolah-olah bergiliran hampir setiap tahun.

Bahkan pada Kamis, 20 Februari 2020 ada tiga titik tanggul jebol sekaligus di dua Desa yakni Desa Kesambi dan Desa Golantepus. Di Desa Kesambi tanggul jebol mencapai sekitar 15 meter. Kejadian ini memperlihatkan seberapa kritisnya tanggul sepanjang aliran Sungai Piji di Kecamatan Mejobo. 

Akibat banjir, kemarin ini setidaknya ratusan rumah warga terendam. Bahkan di sejumlah titik di Desa Kesambi ketinggian air mencapai 1,3 meter atau di atas pinggang orang dewasa. Warga pun dievakuasi di pos penanggulangan bencana di Balai Desa setempat.

Kejadian jebolnya tanggul di Desa Kesambi pada musim hujan 2020 bukan hanya kemarin, satu bulan sebelumnya atau tepatnya tanggal 12 Januari 2020 tanggul sungai juga jebol di titik yang berbeda. Jika dirunut ke belakang beberapa riwayat jebolnya tanggul anak sungai Pemali Juana ini tercatat setiap tahunnya.

Jika ditelisik tepat di sepanjang tanggul sungai dari Desa Tenggeles hingga Desa Kesambi merupakan area pemukiman yang padat, di sisi kanan kiri merupakan rumah-rumah warga. Bisa ditebak jika jebolnya tanggul dapat langsung berimbas pada rumah warga sekitar.

Baca juga  KMKB Kudus Desak Aparat Tindaklanjuti Dugaan Gratifikasi DPRD
Istimewa:Detik-detik jebolnya tanggul di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus (20/2/2020)

Seperti kejadian pada 6 Februari 2018, kejadian jebolnya tanggul sungai ini terjadi di Desa Hadiwarno turut jalan Hadiwarno-Golantepus. Tidak main-main, jebolnya tanggul selebar lebih dari 10 meter ini menyebabkan rumah warga sebagian ambruk dan ratusan warga di evakuasi.

Sementara pada tahun sebelumnya yakni tanggal 26 Februari 2017, peristiwa tanggul Sungai Piji jebol terjadi di sisi timur turut Desa Tenggeles. Pada peristiwa ini tidak ada kerusakan yang berarti sebab, arah air dari jebolnya tanggul mengalir ke areal persawahan. 

Desa Kesambi nampak menjadi langganan area jebolnya tanggul. Tercatat pada 11 Maret tahun 2013 kejadian tanggul sungai jebol di desa tersebut mengakibatkan sejumlah desa sekitar ikut kebanjiran. 

Selain peristiwa jebolnya tanggul tersebut, warga sekitar sungai nampak harus ketar-ketir dan deg-degan ketika debit air Sungai Piji meningkat drastis. Terlebih jika daerah hulu hujan seharian, bisa dipastikan air sungai limpas atau meluber menggenangi jalan hingga rumah warga.

Redaksi pernah merekam tingkat kritis tanggul Sungai Piji pada level membahayakan. Sepanjang tanggul beton, khususnya di Desa Kesambi bocor hingga air dapat mengucur dari sela-sela beton tanggul. Tidak pada satu, dua titik, hampir sepanjan tanggul kritis. Sementara di Desa Tenggeles hingga Hadiwarno aliran air menyempit dan dipenuhi tanaman bambu. 

Baca juga  Jawa Tengah Persiapkan ASEAN School Games 2019

Sejumlah pihak sudah pernah mengeluarkan pernyataan terkait kondisi ini, dari Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Daerah, hingga Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana yang memiliki kewenangan.

Seperti regulasi yang ada, Camat Mejobo sebelumnya yakni Harso Widodo sudah pernah mengusulkan perbaikan tanggul sungai hingga normalisasi sungai pasca jebolnya tanggul pada 2018 lalu.

Sementara Pemkab Kudus telah membawa usulan penanganan tanggul rawan Sungai Piji ke BBWS Pemali Juana. Tingkat Pemkab dan BBWS saat ini pada penanganan korban dan perbaikan pasca bencana. Terkait usulan perbaikan hingga normalisasi, jawaban dari BBWS Pemali Juana pun dapat dilihat dari belum adanya realisasi usulan tersebut.

Tak hanya tanggul Sungai Piji, beberapa titik sungai di Kabupaten Kudus faktanya rawan jebol, sebut saja tanggul Sungai Dawe yang juga melintas Kecamatan Mejobo, juga tanggul Sungai Wulan di sepanjang Kecamatan Jati hingga Kecamatan Undaan. Tentu masyarakat berharap adanya kebijakan dari Pemerintah.

Tentu penyebab jebolnya tanggul juga dipengaruhi oleh debit air yang tinggi dari hulu, juga adanya masalah sampah yang ikut menghambat aliran sungai sampai hilir. Namun sekali lagi, masyarakat tidak harus menunggu sampai bencana jebolnya tanggul berulang. (*/ap)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *