Cerita Perburuan Jodoh di Sendang Jodo

ArtikelSENI & BUDAYA

Written by:

Kudus, KejoraMuria. Com – Tidak bisa dipungkiri sebagian masyarakat kita masih percaya pada sesuatu berbau mistis, klenik dan hal-hal bersifat gaib lainnya. Terlebih agar keinginanya tercapai nih, butuh usaha dan doa. Kalau kata bang haji Rhoma dibutuhkan ‘perjuangan dan doa’, tapi masyarakat kita memandang usaha ya apa saja.

Ini diluar istilah ‘kafir’, dalam masyarakat kita dikenal istilah ‘tirakat’ yang singkatnya si jika seseorang menginginkan sesuatu maka perlu melakukan amalan tertentu.

Nah, Saya Redaksi Kejora Muria menyambangi salah satu tempat yang disebut-sebut digunakan tirakat ‘lajangers’ dan ‘jomblowers’ (maksudnya yang belum menikah) agar disegerakan jodohnya.

Namanya Sendang Jodo, letaknya di Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Konon nih sendang menjadi tujuan anak-anak muda, tidak sekedar yang mau berburu eksotisme keindahan wisata, namun tidak sedikit juga yang sengaja datang untuk ‘tirakat’.

Letaknya di tengah-tengah kebon Jati menambah kesan sunyi dan angker sendang tersebut. Lebih-lebih sekitar sendang, nampak banyak rumput-rumput liar mengelilingi area sendang. Tapi, namanya juga tempat yang dianggap keramat.

Saya sempat bertemu juru jaga Sendang Jodo saat itu, Bapak Giman menceritakan jika memang lingkungan sekitar sendang nampak runggut. Malah dia mengatakan jika ”Dulu malah lebih angker lagi, banyak pohon-pohon besar ratusan tahun disekitar sendang,” ujarnya.

Baca juga  Lestarikan Tradisi, Warga Kaliputu Gelar Kirab Jenang Tebokan

Dia menjadi juru jaga lebih dari lima tahun belakangan ini. Kata dia, sebelumnya juru jaga ialah Pakdenya. Secara turun temurun Sendang Jodo dipelihara, meskipun seadanya. Ngomong-ngomong meskipun dana pemiliharaan tidak begitu besar tapi dia komitmen menjaga sendang ini sebagai ‘warisan leluhur’ yang harus dijaga agar lestari.

Kembali ke masalah jodoh ya, keberadaan Sendang Jodo di Purworejo, Bae, Kabupaten Kudus dianggap beberapa orang sebagi membawa petuah. Giman mengakui jika sebagian besar yang datang ke Sendang Jodo dari kalangan yang masih lajang. Dia menceritakan singkat tentang awal mula Sendang Jodoh yang hingga kini dipercaya orang.

Awal terbentuknya Sendang Jodo, kata dia dari kedatangan seorang pertapa perempuan bernama Dewi Sunti. Ketika tengah bertapa Dewi Sunti kehausan, namun tidak menemukan air di daerah tersebut. Lalu lewatlah Jaran Sembrani. Dewi Sunti lalu mengais-ngais telapak Jaran Sembrani dan keluarlah air.

Setelah mendapatkan air, Dewi Sunti berucap jika nanti anak cucu manusia ada yang belum mendapat jodoh, kelak akan mendapatkan jodoh jika mandi di tempat yang kini disebut Sendang Jodo.

Baca juga  Sambat Gaji UMR Kok Investasi Kelas Premium Alias 'Mbayar' Mahal!

Menurutnya Giman, jika ada yang hendak mencari jodoh mereka datang ke sendang. Sebelum mandi di sendang, mereka berdoa terlebih dahulu di petilasan Dewi Sunti yang tepat diutara sendang. ”Jika ada yang memang berniat mencari jodoh, mereka berdoa dulu di petilasan Dewi Sunti. Baru mandi di Sendang Jodo,” cerita Giman.

Tak hanya terbatas dari Kabupaten Kudus, justru Giman mangaku banyak pengunjung dari luar kota. Lebih banyak dari luar kota, Pati, Demak, Jepara, Rembang. Bahkan pernah ada yang dari Palembang sekeluarga datang ke Sendang Jodo.

Lantas kabar adanya petuah mendapatkan jodoh tersebar ke berbagai daerah, makanya tidak heran jika orang dari luar kota berdatangan. Ya meskipun tidak tahu bagaimana takdir mempertemukan jodoh manusia.

Ternyata tidak hanya meminta jodoh, ada juga beberapa orang yang sengaja datang untuk kesembuhan dan rejeki lancar. Giman mengaku, hal tersebut sesuai kepercayaan masing-masing orang.

”Itu tergantung dari masing-masing orang. Namanya juga cerita orang dulu,” ujarnya. Jadi kalau tertarik, bisa langsung ke lokasi Sendang Jodo. (*/ap)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *