Baku Hantam’ Dulu Saja, Damai Kemudian

ArtikelSoccer

Written by:

KejoraMuria. Com – Masyarakat Indonesia dikenal ramah dan kerap menyelesaikan masalah melalui jalur mediasi, istilah orang Jawa ‘rembugan’. Sebenarnya penyelesaian masalah semacam ini sangat baik, tapi pasti hal yang baik sekalipun memiliki sisi negatifnya.

Beberapa hari lalu, kita sempat dibuat agak geram melihat aksi ‘baku hantam’ antar suporter Persiku Kudus (SMM) dan suporter Persijap Jepara (Banaspati) di kompleks Stadion Wergu Wetan, Kudus. Usut punya usut beredar screenshot percakapan antar dua suporter, intinya saling tantang massa.

Alhasil ‘baku hantam’ terealisasi waktu laga Persiku Jr vs Persijap Jr. Saling lempar batu hingga menghancurkan kendaraan di sekitar lokasi jadi pelampiasan para suporter. Kira-kira mereka datang ke tribun untuk nonton pertandingan atau gladi bersih buat ‘baku hantam’? Tidak diketahui jelas.

Dilansir berbagai sumber Kepolisian Resor Kudus memukul mundur Banaspati hingga kocar-kacir dan melarikan diri ke Jepara. Sementara Kepolisian Resor Jepara yang mendengar kabar ‘baku hantam’ suporter lantas melakukan penjagaan di sejumlah titik jalan di Jepara. Tentu agar ‘baku hantam’ tak meluas ke wilayah. Bisa makin runyam.

Tak mau memperpanjang urusan ‘baku hantam’ yang faktanya sering terjadi antar suporter, pihak SMM Dan Banaspati dipertemukan agar saling ‘damai’. Pertemuan dilakukan di Mapolres Kudus, dimotori Kapolres Kudus AKBP Saptono dan Kapolres Jepara AKBP Arif Budiman, Rabu (18/9) sore. Kedua pihak akhirnya sepakat berdamai.

Lalu bagaimana dengan kerusakan yang ditimbulkan dari adegan ‘baku hantam’ hari sebelumnya? Beberapa poin kesepakatan diteken, selain kedua pihak diminta instropeksi diri, menjaga konsufitias wilayah masing-masing,  kedua pihak juga bakal menataati aturan Asprov dan statuta PSSI, tentu juga tanggung jawab atas kerusakan yang terjadi.

Intinya soal tanggung jawab dilakukan secara silang. Maksudnya kerusakan yang dialami suporter Persiku ditanggung Persijap juga sebaliknya. Sepakat tapi tidak menjamin adegan ‘baku hantam’ suporter tidak terjadi lagi. Sejarah menyebutkannya begitu.

Untungnya saja aksi ‘baku hantam’ tak sampai menimbulkan korban jiwa, meskipun puluhan sepeda motor rusak parah dihajar suporter. Jalan damai nampaknya bisa diterima kedua belah pihak.

Berdamai sebenarnya sah-sah saja, tapi itu seperti tidak memberi efek jera bagi para suporter yang ricuh. Maka jelas tidak akan ada jaminan ‘baku hantam’ antar suporter tidak terjadi lagi. Kebanyakan suporter yang melakukan ‘baku hantam’ tapi menejemen klub yang meski menanggungnya. Selain sanksi disiplin, klub juga kerap mendapat sanksi denda.

Hal ini tentu merugikan klub bukan suporter. Padahal bisa saja ‘baku hantam’ yang merusak sejumlah fasilitas dikenakan pasal pengerusakan dan masuk dalam ranah pidana. Seperti pasal 406 KUHPidana ayat (1) yang menyebutkan “Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusakkan, membikin tak dapat dipakai atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya atau, sebagian milik orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah”.

Tapi mungkin saja jika pasal itu dikenakan agak ‘bikin’ pusing. Istilah jika dilakukan pengerusakan sepihak bisa jadi pasal itu bisa digunakan, tapi para suporter kan ‘saling’ mengerusak.

Urusan ‘baku hantam’ antar suporter seperti perlu menjadi perhatian serius para pembuat aturan. Tentu agar adegan ‘baku hantam’ menjadi event yang bisa semudah itu dilakukan oleh suporter. Selain merugikan klub kesayangan, aksi itu bisa menimbulkan ketakutan masyarakat di sekitar. (*/ap)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *